Ini Kata Dokter Hewan tentang Maraknya Hobby Memelihara Burung Hantu

Burung hantu yang sejatinya adalah satwa yang aktif di malam hari (nokturnal) kini semakin banyak dipajang di tempat-tempat wisata dan di kawasan bebas kendaraan bermotor (car free day) pada siang hari. Burung hantu itu "dieksploitasi" untuk kepentingan foto dan eksistensi kelompok. Bagaimana pandangan dari sudut medis dan kesejahteraan satwa?

Menurut Drh.  Wita Wahyudi yang berpengalaman menangani medis satwa liar, burung hantu yang dipaksa untuk aktif di siang hari itu akan memicu stress burung hantu yang tidak bisa ditolerir oleh tubuhnya sendiri.

"Faktor stress yang berkepanjangan akan memicu peningkatan pengeluaran corticosteroid dari tubuh yang akan berdampak imun binatang tersebut melemah sehingga mudah terserang penyakit", kata Wita.

Wita yang juga menjadi advisory board PROFAUNA itu menambahkan, "memaksa burung hantu aktif di siang hari misalnya untuk foto-foto itu juga berdampak buruk terhadap retina burung hantu yang sensitif terhadap sinar, jelas ini tidak ramah terhadap satwa".

Burung hantu mempunyai peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem, karena mereka adalah predator yang memangsa satwa yang berpotensi menjadi hama seperti tikus. Jika burung hantu ini terus diburu dari alam, diperdagangkan dan dikoleksi di rumah-rumah, maka keseimbangan alam akan menjadi timpang.

Ada beberapa alasan kenapa ada orang yang gemar memelihara burung hantu sebagai koleksinya. Mereka beranggapan membeli buurung hantu karena alasan  cinta, karena mereka merawatnya dengan benar dalam arti memberinya makan dan minum dengan cukup.

"Alasan cinta satwa itu alasan yang mengada-ngada dan kontradiksi dengan perlakuan mereka terhadap burung hantu, karena membawa burung hantu untuk jalan-jalan di siang hari atau foto-foto di car free day itu menunjukan mereka sebenarnya tidak cinta, karena itu membuat burung stress, ini bentuk eksploitasi satwa", tegas Pendiri PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid.

Memelihara burung hantu sebagai satwa peliharaan ternyata bukan hanya membuat burung itu stres dan mengancam kelestarian burung hantu di alam, tetapi juga rentan tertularnya penyakit yang bersifat zoonosis (bisa menular ke manusia).

"Kontak fisik dengan satwa liar seperi burung hantu yang tidak terawat dengan baik secara medis itu ada potensi manusia tertular penyakit dari burung tersebut seperti flu burung, chamydiosis, salmonellosis, toxoplasmosis dan leptospirosis", tambah Drh Wita.

Sumber foto: pugetsoundbirds.org

© 2003 - 2021 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.