Arif Rahman: Bekerja Sambil Menyebarkan Nilai Konservasi Alam

Arif Rahman - Supporter ProFaunaArif Rahman atau biasa dipanggil Maman ini bergabung menjadi Supporter ProFauna Indonesia pertama kali pada tahun 2003 setelah dia melihat pemberitaan ProFauna di sebuah televisi. Ia mengaku bahwa pada awalnya merasa seperti "anak bawang" di lingkungan ProFauna, karena ia melihat begitu banyak orang yang telah berbuat nyata untuk satwa liar, inilah yang membuat Maman terpacu untuk membuktikan bahwa dia pun bisa melakukan sesuatu untuk satwa liar.

Sebagai seorang sinder atau asisten tanaman di PTPN XII Kebun Kayu Mas afdeling Plampang, Kabupaten Situbondo yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola kebun seluas 147,8 Ha, cara yang sangat mungkin dilakukan Maman untuk turut melestarikan satwa liar adalah dengan melarang perburuan satwa liar di perkebunannya. Maman yang lahir pada tahun 1981 itu tidak segan untuk menegur bahkan menyita senjata milik pekerjanya jika mereka melakukan perburuan satwa liar.

Suatu ketika ada seorang pekerja perkebunan yang membawa seekor anak merak yang ingin dijual ke Maman. Dengan arif, Maman mengatakan, "ini saya beli meraknya Rp 50.000, tapi tolong merak ini dilepas kembali kehutan". Pekerja itu kaget dengan "kebijakan" Maman yang mau membayar burung merak itu namun minta dikembalikan lagi ke hutan. Kearifan Maman itu membuat pekerja itu malu dan kemudian sadar untuk tidak berburu satwa liar lagi.

Aktivitas yang dilakukan oleh Maman itu lambat laun juga mengispirasi beberapa orang koleganya sesama sinder, untuk melakukan hal yang sama. Apa yang telah dilakukan oleh Maman itu sebenarnya sejalan dengan misi PTPN XII, karena sebagai sebuah perusahaan yang hampir seluruh hasil produksinya diekspor keluar negeri, salah satu prasyarat untuk dapat diterima oleh pasar luar negeri itu harus mendapatkan sertifikasi "green product". Pelestarian keanekaragaman hayati di perkebunannya itu juga bagian dari imej green product.

Di sela-sela kesibukannya mengawasi pengelolaan kebun kopi di Plampang, Maman yang masih lajang itu menyempatkan diri untuk mendata burung-burung yang ada di Plampang. Maman berhasil mengidentifikasi 100 jenis burung di wilayahnya, termasuk burung langka seperti elang jawa. Banyaknya jenis burung yang ditemukan di Plampang itu karena perkebunannya berbatasan langsung dengan hutan alami yang masih bagus kondisinya. Selain itu pelarangan perburuan satwa liar di kawasan perkebunan juga turut membantu lestarinya burung-burung.

Tidak cukup hanya melakukan pengamatan burung, Maman juga aktif memasang papan pelarangan perburuan satwa liar di perkebunannya. Pemasangan papan pelarangan itu seringkali merogoh dompet pribadinya. Maman telah melakukan upaya pelestarian satwa liar dengan caranya, meskipun tanpa ada sponsor. Inspirasi terbesarnya adalah justru dari ProFauna Indonesia.

Maman sadar bahwa dia tidak mungkin selamanya dia berada di Plampang, karena mutasi adalah hal yang biasa terjadi di perusahaannya. Maman mengatakan, "dimanapun saya bekerja, saya akan membawa misi ProFauna dan menyebarkan nilai-nilai konservasi alam". Sebuah pemikiran dan langkah yang patut dihargai, karena seharusnya kepedulian terhadap alam itu dilakukan setiap hari, bukan sebatas pada acara-acara seremoni belaka.

© 2003 - 2021 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.