Menandai Perjalanannya Selama 20 Tahun, PROFAUNA Luncurkan Logo dan Program Baru

ProFauna yang didirikan pada tahun 1994 kini berkembang pesat menjadi organisasi grass roots terbesar untuk perlindungan satwa liar dan habitatnya di Indonesia. Dengan didukung ribuan supporter-nya, ProFauna telah mengambil peran penting dalam berbagai isu tentang konservasi satwa liar di Indonesia yang merupakan salah satu negara penting dalam hal keanekaragaman hayati.

Menandai perjalanan 20 tahun ProFauna di Indonesia, pada tanggal 1 Juni 2014 ProFauna meluncurkan logo dan program baru. Kini nama ProFauna juga bukan sekedar nama, namun ada kepanjangannya yaitu menjadi Protection of Forest and Fauna (PROFAUNA). Logo bergambar lutung hitam yang telah dipakai selama 20 tahun, kini diganti dengan logo baru yang lebih segar yaitu berupa gambar primata dan hutan.

Peluncuran "New PROFAUNA" yang dilakukan di Petungsewu Adventure, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang itu dihadiri sekitar 100 orang aktivis dan mitra PROFAUNA. Peluncuran nama baru itu ditandai dengan pengenalan logo baru PROFAUNA oleh pendiri dan Ketua PROFAUNA, Rosek Nursahid.

"Logo baru PROFAUNA ini menguatkan semangat kami bahwa PROFAUNA bukan hanya bekerja untuk melindungi satwa liar Indonesia, namun juga melindungi hutan yang semakin menciut luasnya", ujar Rosek. "Tanpa hutan yang terjaga, semakin sulit satwa liar untuk bertahan hidup", tambah Rosek.

Dalam peluncuran itu, PROFAUNA juga mengenalkan program utama dan kebijakannya yang akan difokuskan pada enam isu yaitu Combating wildlife crime, Protecting forest, Against wildlife abuse, Ranger, Support local community, dan Grassroots movement.

Rosek Nursahid mengatakan, "nama dan logo baru PROFAUNA ini tidak merubah kebijakan yang sudah dijalani selama 20 tahun, kami akan tetap bekerja untuk melindungi satwa liar. Namun kini porsi perlindungan hutan menjadi lebih besar dalam kebijakan PROFAUNA yang baru". Rosek yang mendirikan PROFAUNA bersama aktivis lingkungan Made Astuti itu menambahkan, "kini PROFAUNA juga lebih meningkatkan program partisipasi masyarakat dalam perlindungan hutan dan satwa liar, karena tanpa peran masyarakat, cita-cita untuk melestarikan hutan dan satwa liar hanya akan jadi mimpi".

Enam isu utama yang diusung PROFAUNA itu merupakan wujud dari rencana strategis PROFAUNA yang disusun oleh sejumlah aktivis dan advisory board PROFAUNA pada bulan Maret 2014. Dr. Herlina Agustin, advisory board PROFAUNA mengatakan, "kami sangat setuju PROFAUNA bekerja untuk isu hutan dan penyalahgunaan satwa liar, karena ini menjadi masalah serius di Indonesia yang perlu juga ditangani oleh PROFAUNA".

Daniel Stephanus, advisory board PROFAUNA yang lain menambahkan, "satwa liar dan hutan adalah satu kesatuan, sehingga sangat tepat jika PROFAUNA bekerja di kedua isu ini". Sementara itu Rustam, peneliti satwa liar di Kalimantan yang juga advisory board PROFAUNA mengatakan, "perburuan satwa liar itu berjalan seiring dengan perusakan hutan. Hutan yang rusak membuat akses pemburu lebih mudah dalam berburu satwa liar".

© 2003 - 2021 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.