Kebakaran Hutan Gunung Kawi Mencapai Ribuan Hektar, Apa Penyebabnya?

Tim PROFAUNA Indonesia yang sedang patroli hutan di Pegunungan Kawi menjumpai kebakaran di hutan pinus (29/9/2026). Tutupan vegatasi bawah yang kering, membuat api cepat meluas dan membakar pohon dan semak yang ada.

Kebakaran hutan tersebut langsung dilaporkan ke Perhutani, selaku pengelola hutan. Satu jam kemudian tim Perhutani merapat ke lokasi kebakaran hutan bersama masyarakat lokal. Mereka bahu membahu dengan tim PROFAUNA Indonesia memadamkan api dengan alat sederhana. Akhirnya sore hari, sekitar pukul 15.00 wib, api berhasil dipadamkan.

PROFAUNA Indonesia menduga kebakaran hutan itu disengaja, karena tidak ada faktor alami yang bisa memicu terjadinya kebakaran. Diduga kebakaran dilakukan oleh orang hendak membersihkan lahan untuk pertanian. Sayangnya cara pembersihan lahan dilakukan dengan cara membakar.

Kebakaran hutan di area pegunungan Kawi bukan hanya terjadi di hutan pinus saja, tetapi juga di kawasan hutan lindung. Data bulan September 2026, luasan area yang terbakar sudah melebihi 1.000 hektare

Administratur Perum Perhutani KPH Malang Kelik Djatmiko mengatakan, pada Rabu 16 September 2026 tercatat area terdampak kebakaran sekitar 1.050 hektare. Kini, estimasi luasan area terbakar makin meluas hingga mencapai sekitar 1.500 hektare. (Detik Jatim, 20/9/2026)

Kompleks Gunung Kawi yang juga disebut Pegunungan Putri Tidur terdiri dari sejumlah gunung, yakni Gunung Panderman, Gunung Buthak, Gunung Kawinajang, Gunung Pitrang, dan Gunung Kawi itu sendiri. Kaki dan lereng kumpulan gunung tersebut berada di tiga wilayah yaitu Kabupaten Blitar di sisi barat, Kabupaten Malang di sisi timur, dan Kota Batu di sisi utara.

Faktor Penyebab Kebakaran

Penyebab kebakaran secara umum disebabkan faktor manusia dan alami. Kebakaran alami itu misalnya akibat letusan gunung dan petir. Apakah kebakaran hutan yang melanda Jawa dan juga daerah lain itu faktor alam ataukan manusia? PROFAUNA percaya bahwa penyebab terbesar itu adalah faktor manusia, baik secara disengaja ataupun lalai.

Melihat kebakaran hutan yang melanda di Gunung Arjuna dan Pegunungan Kawi, penyebabnya lebih kepada faktor manusia antara lain pembukaan atau pembersihan ladang pertanian dan api unggun yang tidak dimatikan sempurna. Api unggun ini biasanya dibuat oleh pendaki gunung atau pemburu satwa ilegal.

Putung rokok juga bisa menjadi pemicu kebakaran, jika lahannya sangat kering dan angin bertiup cukup kencang. PROFAUNA pernah melakukan simulasi bahwa memang putung rokok yang masih menyala itu bisa memicu kebakaran semak atau rumput yang kering.

Sejak lama masyarakat masuk ke kawasan hutan lindung dan hutan pinus seperti di Gunung Arjuna untuk membuka lahan pertanian. Mereka kebanyakan menanam sayur seperti wortel, kol, kentang dan cabe. Banyak petani hutan yang membersihkan lahannya dengan cara membakar rumput, semak dan juga pohon. Sering kali mereka membakarnya di sore hari, kemudian ditinggal oleh petani dalam kondisi api masih menyala atau membara.

Sementara itu masyarakat lokal yang ada di sekitar Pegungan Kawi kebanyakan hanya menanam rumput di kawasan hutan. Rumput ini untuk pakan ternak sapi. Rumput ditanam di sela-sela pohon, sehingga cenderung tidak mematikan pohon seperti halnya petani sayur yang ada di Gunung Arjuna.

Sejak tahun 2021 PROFAUNA Indonesia bekerja di wilayah Gunung Arjuna dan Pegunungan Kawi. Salah satu programnya adalah pendampingan petani hutan untuk mengelola hutan secara lestari dan pemulihan hutan lindung yang sudah rusak. Selain itu juga pengembangan agroforestry kopi untuk menggantikan komoditi tanaman sayur.

© 2003 - 2026 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.