Gawat, Penyu Diambang Kepunahan

TANJUNG REDEB - Menjamurnya bangunan hotel dan penginapan di Pulau Derawan tak hanya berdampak terhadap hilangnya keaslian Pulau Derawan, namun lebih dari itu, juga berdampak terhadap enggannya penyu bertelur di Pulau Derawan. Hal itu diungkapkan Koordinator Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Borneo, Bayu Sandi saat dikonfirmasi beraunews.com, Selasa (7/6/2016). 

"Bangunan penginapan dan hotel yang berdiri di atas laut Pulau Derawan itu sangat menganggu kehadiran penyu untuk bertelur. Bukan hanya soal bertelur saja, keberadaan bangunan disana (Pulau Derawan-red) juga berakibat fatal terhadap keberlangsungan hidup penyu itu sendiri. Sebab, Penyu itu sangat sensitif, jadi saat mereka bertelur harus terhindar dari bunyi dan cahaya apapun," ungkapnya.

Terkait rencana pemerintah daerah yang akan melakukan penertiban kawasan objek wisata Pulau Derawan dari bangunan liar, Bayu sangat mendukungnya.

"PROFAUNA Borneo mendukung sekali jika Pemkab berencana menertibkan bangunan liar di Pulau Derawan. Ini demi keberlangsungan hidup habitat penyu yang semakin berkurang. Jika memang Pemkab serius, segera lakukan penertiban itu," tegasnya.

Tak hanya itu, selama kurun waktu 10 tahun terahir, habitat penyu hijau yang akan bertelur di Pulau Derawan sangat berkurang, bahkan dari 10 ekor penyu, hanya separuhnya saja  yang mau bertelur di Pulau Derawan.

"Dari data yang ada, jumlah penyu yang mau bertelur di Derawan jauh berkurang. Ini mendekati musim bertelur Oktober nanti, paling semalam cuma 4 ekor yang naik bertelur, bulan-bulan biasa malah kadang dalam dua, hanya satu ekor penyu saja yang mau naik bertelur ke Pulau Derawaan," tambahnya. 

Dikatakannya, dengan kondisi yang ada saat ini, kelestarian penyu di Kabupaten Berau kian terancam, bahkan beberapa tahun lagi, keberadaannya diperkirakan akan punah. 

"Berdasarkan hasil penelitian, populasi penyu yang menjadi lambang Kabupaten Berau ini hanya tinggal 6,67 persen dan jumlah penyu yang bertelur atau menurun 26,67 persen, sementara pencurian telur penyu meningkat 120 persen, jumlah sarang penyu yang hilang meningkat 253,57 persen," ungkapnya lagi. 

Bayu menjelaskan, sekarang ini di Berau hanya tercatat 3.000 ekor saja lagi populasi penyu, bandingkan dengan populasinya sebelum perang dunia II yang mencapai 45.000 ekor. Begitu juga jumlah penyu yang bertelur, tahun lalu mencapai 15 ekor, kini hanya 11 ekor saja setiap harinya. Sementara data dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Berau, tercatat ada 5 kasus pencurian telur penyu di tahun 2013, tahun 2014 meningkat menjadi 10 kasus dan tahun 2015 meningkat kembali menjadi 19 kasus. Sedangkan jumlah sarang penyu yang hilang tercatat ada 28 sarang di tahun 2013, tahun 2014 meningkat menjadi 78 sarang dan tahun 2015 sebanyak 71 sarang. 

"Kalau terus berbanding terbalik seperti ini, maka diperkirakan beberapa tahun lagi keberadaan penyu di Kabupaten Berau akan punah. Berbanding terbalik yang dimaksud, yakni faktor yang meningkatkan populasi penyu terus menurun tajam, sedangkan faktor yang menurunkan populasi penyu justru semakin meningkat tajam,' sesalnya.

Ditanya cara mencegah hal itu terjadi, Bayu menjawab, sekarang ini bukan lagi zamannya hanya menjadikan program konservasi penyu sebagai slogan belaka, yang dibutuhkan untuk menyelamatkan penyu adalah langkah nyata. Bukankah substansi hukum yang mengatur konservasi penyu secara tegas telah diatur, antara lain KUHAP, UU Nomor 5/1990, PP Nomor 7/1999 dan PP Nomor 8/1999.

"Jadi, sudah saatnya, Pemkab Berau dan aparat penegak hukum berbuat maksimal dalam upaya konservasi penyu dengan melibatkan semua elemen yang ada. Caranya dengan mendorong kontrol yang ketat, pemberantasan praktek perdagangan telur dan aksesoris penyu, serta melakukan pemberantasan penggunaan bom ikan yang merusak terumbu karang.

Masyarakat juga perlu tahu kalau telah ditemukan kandungan senyawa Polutan Organik Persisten (POP) dan logam berat di telur penyu yang dapat menyebabkan kanker, liver, kerusakan sistem syaraf dan gangguan sistem hormone endokrin," pungkasnya.(msz)

Sumber:  Beraunews.com

© 2003 - 2021 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.