Penyuluhan ke Petani tentang Penanganan Konflik dengan Primata

Pembukaan lahan pertanian di lereng Gunung Arjuna semakin memperuncing potensi konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya primata. Lahan petanian yang dibuka kadang berbatasan dengan hutan lindung yang menjadi habitat monyet ekor panjang dan lutung jawa. Akibatnya ketika tanaman petani siap panen, primata tersebut memakan tanaman tersebut.

Dalam kondisi seperti itu primata akan dianggap menjadi hama oleh patani. Dalam beberapa kasus petani mulai ada yang membunuh primata yang memang habitatnya berada di daerah tersebut.

Untuk meredam meluasnya konflik antara petani dan primata, tim PROFAUNA lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan ke para petani tersebut. Penyuluhan dilakukan dengan cara berkunjung ke pondok-pondok petani yang ada di tengah ladang, kemudian memberikan informasi terkait pelestarian primata.

PROFAUNA juga banyak berdiskusi dengan petani untuk mencari solusi yang terbaik untuk mengusir primata agar tidak memakan tanaman, namun tanpa menyakiti atau membunuh primata tersebut. Ada beberapa cara yang telah di uji coba, antara lain dengan membuat alat semacam bazoka yang akan mengeluarkan suara ledakan cukup keras sehingga akan membuat primata tersebut takut dan tidak masuk ke ladang.

Cara lain adalah dengan memberikan makan jagung ke primata khususnya monyet ekor panjang. Uniknya ketika petani memberi makan jagung, itu rombongan monyet tidak lagi merusak tanaman yang siap panen. Memang petani akan keluar uang lebih untuk membeli jagung, namun itu akan lebih menguntungkan daripada semua tanamannya rusak.

"Konflik dengan primata itu tidak bisa dihindari karena lahan yang dibuka oleh petani itu sebelumnya adalah habitatnya monyet dan lutung, jadi harus dipikirkan solusi yan g saling menguntungkan", kata  Rosek Nursahid, seorang biolog yang sering melakukan penelitian primata di alam.

Rosek yang juga aktivis PROFAUNA itu menambahkan, "kedepannya kami akanmendesak adanya moratorium pembukaan lahan pertanian yang berbatasan dengan hutan, karena jika terus dibuka untuk pertanian itu rawan longsor dan meningkatkan resiko konflik dengan satwa".

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.