Konservasi Penyu Di Pulau Belambangan, Kabupaten Berau

Pulau Belambangan (dikenal juga dengan nama Balembangan) adalah sebuah pulau kecil yang letaknya sangat terpencil yang berbatasan dengan Filipina. Pulau Belambangan yang masuk dalam Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini memiliki wilayah daratan seluas 9,3 hektar dan sama sekali tidak dihuni oleh manusia. Hal ini dikarenakan Pulau Balembangan tidak memiliki penunjang kehidupan utama manusia yaitu air tawar.

Walaupun kecil, pulau ini menjadi habitat peneluran penyu hijau (Chelonia mydas) terpadat di perairan Kabupaten Berau. Diperkirakan dalam satu tahun terdapat 2.500 - 3.000 kali kunjungan induk penyu ke pulau ini yang menghasilkan sekurangnya 1.500 sarang, atau sebanding dengan 150.000 butir telur penyu.

Di Pulau Belambangan, penyu bertelur sepanjang tahun, namun musim peneluran penyu tertinggi terjadi pada bulan Juni hingga Desember setiap tahunnya. Pada musim peneluran penyu ini dalam satu malam bisa ada sekitar 40 ekor penyu hijau yang mendarat di Pulau Belambangan.

Sejak awal tahun 2019, Yayasan Penyu Indonesia (YPI) dengan didukung oleh Turtle Foundation dan PROFAUNA Indonesia menyelenggarakan program konservasi penyu di Pulau Belambangan. Selain didukung 2 lembaga tersebut, dalam mengelola Pulau Belambangan ini YPI juga mendapat dukungan dari DKP Kabupaten Berau dan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Untuk menjaga pulau habitat penyu itu, YPI menempatkan Ranger untuk menjaga penyu-penyu yang sudah dilindungi undang-undang. Tugas Ranger YPI terutama mencegah terjadinya pencurian telur penyu. Selain itu Ranger YPI juga melakukan pendataan tentang jumlahpendaratan penyu betina, jumlah sarang, jumlah telur, tingkat keberhasilan menetas telur, dan jumlah tukik yang selamat. Tugas lainnya adalah relokasi telur penyu yang berada di area pasang laut ke daerah lain yang lebih aman di dalam Pulau Belambangan

Ranger dilatih untuk mengembangkan ketrampilan dan insting dalam mendeteksi lokasi sarang penyu. Sarang penyu hijau termasuk yang paling susah untuk dideteksi, sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran Ranger untuk bisa mendektesi lokasi sarang penyu.

Kebutuhan air tawar dan makanan untuk Ranger didatangkan dari luar pulau. Ini membutuhkan biaya yang mahal karena harus diangkut dengan perahu yang kuat. Perahu tersebut akan mengarungi lautan lepas yang karakter gelombangnya sulit sekali ditebak.

Tantangan utama dalam program pelestarian penyu di Pulau Belambangan ini adalah maraknya eksploitasi penyu, terutama pengambilan telurnya untuk diperdagangkan. Pengambilan telur penyu ini dilakukan secara masif oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, tanpa menyisakan sedikitpun sarang.

"Sebelum Ranger YPI bertugas di Pulau Belambangan, nyaris tidak ada telur penyu yang tersisa, semuanya diambil oleh pencuri. Namun kini kondisinya telah jauh lebih baik karena ada Ranger yang menjaganya," kata Bayu Sandi, Ketua YPI.

Kerja keras itu membuahkan hasil positif dengan menurunnya secara drastis angka pencurian sarang penyu. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan yaitu bulan Februari hingga Juli 2019, sekurangnya ada 748 sarang diselamatkan, ini berarti ada 74.800 butir telur penyu selamat. Dengan asumsi keberhasilan 80% penetasan alami maka sekurangnya ada 59.840 ekor tukik yang berhasil diselamatkan.

Link Terkait:

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.