Edukasi PROFAUNA di Trans7 tentang Penayangan Satwa Liar dan Habitatnya di Televisi

PROFAUNA Indonesia kembali menunjukkan peran aktifnya dalam mendukung upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya. Pada hari Jumat (11/5) yang lalu, PROFAUNA Indonesia hadir di Menara Bank Mega Jakarta untuk bertemu dan memberikan edukasi kepada tim redaksi dan produksi Trans7.

Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari protes keras PROFAUNA terhadap program Para Petualang Cantik (PPC) Trans7 yang menayangkan perilaku tidak tepat terhadap kima, salah satu biota laut Indonesia yang dilindungi.

Kehadiran PROFAUNA adalah untuk memenuhi undangan dari pihak Trans7 yang menanggapi serius protes yang diajukan. Pihak Trans7 menyadari kesalahan mereka dalam tayangan tersebut dan menginginkan adanya share pengetahuan berkaitan dengan penayangan satwa di televisi.

Kepala News Division Trans7, Titin Rosmasari, mengatakan bahwa sebenarnya Trans7 sudah memiliki pengalaman belasan tahun dalam membuat program bertema lingkungan hidup, dan menjadi satu-satunya televisi swasta di Indonesia yang memiliki porsi yang cukup besar untuk itu.

"Tapi kejadian 'kima' itu menunjukkan bahwa kami pun bisa tersandung. Ternyata ada beberapa hal yang belum dimengerti," ujar Titin dalam sambutannya mengawali pertemuan tersebut.

Pertemuan yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut dihadiri oleh sebagian besar kru divisi programming dan news, termasuk para wakil pemimpin redaksi, staf Quality Control, serta staf Humas Trans7. Hadir pula Sisca Hormansyah, Produser Eksekutif Trans7 yang membawahi produksi program PPC.

PROFAUNA Indonesia hadir selaku narasumber tunggal, yang diwakili oleh PROFAUNA Advisory Board Member, Dr. Herlina Agustin, S.Sos., MT., didampingi oleh Represtatif PROFAUNA Jawa Barat, Dandi Supriadi.

Dalam kesempatan tersebut, PROFAUNA menyampaikan materi seputar teori dan teknis penayangan satwa di televisi, termasuk pentingnya memberikan edukasi kepada pemirsa tentang animal welfare serta mitos-mitos yang tidak benar tentang satwa liar.

"Kondisi lingkungan hidup di Indonesia sudah dalam kondisi kritis, dan perlu ada upaya memberi kesadaran kepada masyarakat tentang memperlakukan alam dengan benar," tegas Herlina mengawali presentasinya.

Informasi yang kurang tepat di media massa terutama di televisi memiliki potensi untuk dengan mudah mendorong masyarakat berperilaku yang tidak tepat. Herlina memberikan contoh tentang efek penayangan program "Berburu" yang kemudian meningkatkan penjualan senapan angin serta perburuan satwa yang sembarangan. Banyak pula program telelvisi yang memberikan informasi  keliru tentang satwa liar, contohnya tentang ular berbisa yang dianggap hewan buas yang harus dibunuh.

"Yang menjadi prinsip dari PROFAUNA adalah bagaimana tayangan di media massa tidak membuat orang menjadi senang memelihara satwa liar atau menyikapi kehadiran satwa liar dengan perspektif yang keliru," kata Dandi Supriadi melengkapi keterangan Herlina.

Khususnya tentang kima, Herlina juga menampilkan data tentang jenis-jenis kima yang ada di Indonesia dan semuanya ada dalam status dilindungi berdasarkan PP No. 7 tahun 1999.

"Jadi tidak ada alasan ada jenis kima yang boleh dikonsumsi hanya karena sudah menjadi tradisi masyarakat turun temurun. Media TV seharusnya menjadi saluran untuk mengedukasi masyarakat tentang hal tersebut," tegas Herlina.

Pihak Trans7 mengakui kurangnya pengetahuan mereka tentang perlakuan terhadap satwa liar, dan materi yang diberikan PROFAUNA telah membuka perspektif mereka.

"Sejak kasus kima tersebut, kami menjadi jauh lebih hati-hati apabila menayangkan acara dengan melibatkan satwa liar. Itu sebabnya kami saat ini ingin mendapatkan input dari PROFAUNA," imbuh Sisca Hormansyah.

Keterbukaan Trans7 untuk mendapatkan koreksi menjadi hal positif dan didukung penuh oleh PROFAUNA. Lebih dari itu, pihak Trans7 menyampaikan apresiasi yang besar kepada PROFAUNA, bahkan menawarkan kerjasama lebih jauh di mana PROFAUNA dapat berperan sebagai konsultan khusus untuk tayangan yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

"Untuk program keagamaan, kami sudah punya konsultan khusus. Untuk program lingkungan kami belum punya. Akan sangat baik apabila PROFAUNA dapat menjadi narasumber kami agar materi siaran tentang lingkungan dapat terjaga," ujar Titin Rosmasari.

Semangat yang patut diapresiasi. Semoga ke depannya Trans7 dan juga media massa lain dapat terus mendukung upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya tanpa menyebarkan informasi yang kontra-produktif. (DS)

© 2003 - 2018 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.