Edukasi Konservasi Penyu di Berau: Kaget karena Telur Penyu Bisa Picu Asam Urat

PROFAUNA terus melakukan edukasi ke sekolah-sekolah tentang konservasi penyu di Kabupaten Berau. Program ini dipandang penting untuk memberikan informasi sejak dini tentang konservasi penyu kepada generasi muda. Ternyata kegiatan edukasi yang dilakukan oleh relawan PROFAUNA ini mengundang beberapa media massa untuk meliputnya, seperti yang dipublikasikan oleh Berau Post pada tanggal 9 Maret 2016 ini;

Selepas lonceng istirahat salat Zuhur, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanjung Redeb kembali ke dalam kelas. Meski raut wajah siswa sudah memperlihatkan kelelahan, namun semangatnya tetap berkobar.

Di penghujung jam pelajaran terakhir, Kelas XII IPA 2 yang memiliki jadwal Bahasa Inggris, sedikit mengalami perubahan. Kepala MAN, Ali Muttaqin Suryanto, yang menjadi wali kelasnya, menyambut kedatangan tamu dari Protection of Forest and Fauna (Profauna) Berau.

Sudah kepalang, pelajaran Bahasa Inggris yang dipimpin Ali harus terhenti sesaat. Tujuan Profauna demi menunjukkan pentingnya menjaga penyu yang juga merupakan maskot Bumi Batiwakkal.

Kampanye edukasi ini merupakan lanjutan dari terungkapnya fakta, bahwa masih banyak pernak-pernik yang dijual dari sisik penyu. Atas dasar inilah kampanye ini dilakukan.

Pun menindaklanjuti pesan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau pentingnya arti penyu bagi keberlangsungan masyarakat Bumi Batiwakkal. Rencananya, tahun depan peraturan daerah (Perda) mengenai keberlangsungan satwa dilindunggi itu akan ditetapkan.

Menarik tentunya jika melihat keterlibatan non government organization (NGO) untuk terlibat langsung, memberikan edukasi pada kampanye ini. Bayu Sandi serta Ana Gosling dari Profauna Berau yang memberikan kampanye kepada 40 siswa. Menariknya, Ana adalah warga negara asing (WNA) asal Jerman.

Perempuan berumur 26 tahun, kelahiran Hamburg ini, sudah beberapa tahun menjadi pegiat lingkungan. Perjalanannya di Berau pun demi melihat langsung habitat asli orangutan serta penyu yang sudah mulai langka.

Karena berasal dari Eropa, sudah barang tentu ia berkomunkasi menggunakan Bahasa Inggris. Perempuan dengan mata hijau itu mengisahkan pengalamannya kepada siswa di kelas XII IPA 2 sebagai pegiat lingkungan. Ia menerangkan, bagaimana Berau memiliki kekayaan alam yang begitu indah dengan segala isinya. Baik tumbuhan maupun binatang. Namun, sayangnya keadaan binatang tersebut terancam, seiring pertumbuhan ekonomi.

Karena Ana menggunakan Bahasa Inggris, mau tak mau para siswa maupun di kelas tersebut, menanyakan beberapa hal menggunakan bahasa asal negeri Ratu Elizabeth tersebut. Ini juga menjadi nilai lebih demi meningkatkan kemampuan berbicara siswa menggunakan bahasa dunia itu.

"Isu mengenai lingkungan dan satwa liar serta konservasi, harusnya ditanamkan sejak dini. Untuk itu kami senang sekali kedatangan teman-teman dari Profauna. Terlebih yang datang dari luar negeri. Tentu ini menambah nilai lebih demi mengajarkan siswa kemampuan dwi bahasa," kata Ali.

Edukasi itu dilakukan dengan pemutaran film konservasi penyu, presentasi, diskusi dan permainan. Beberapa siswa tercengang ketika mengetahui masih banyak perdagangan mengenai penyu di pasar bebas. Contoh telur dan daging penyu itu sendiri. Belum lagi sisiknya yang dimanfaatkan menjadi aksesori.

Salah seorang siswa bernama Dina menanyakan secara lantang dalam Bahasa Inggris mengenai pentingnya menjaga penyu dalam habitat aslinya. Ana yang dibantu Bayu menjelaskan peranan penyu dalam ekosistem. Penyu ternyata memiliki peran untuk memakan terumbu karang yang telah mati atau membantu perkembangbiakan tempat berlindung ikan tersebut. Sehingga secara tidak langsung, juga menjaga keberlangsungan hidup bawah laut. Terlebih bagi manusia, yang selama ini bergantung terhadap ikan sebagai sumber protein dan nutrisi.

Yang tidak kalah membelalak pengetahuan adalah, mengonsumsi telur penyu secara ilmiah ternyata dapat menyebabkan asam urat. Hal ini dikarenakan kandungan kolesterol pada telur penyu.

"Jadi segala mitos mengenai telur penyu dan segala yang  terkait itu salah. Justru yang benar adalah bahaya yang dapat mengancam. Jadi sebaiknya menjaga kelestariannya. Bukan malah dibunuh dan dikonsumsi," pesan Ana.

Sebelum menutup pertemuan siang itu, Ali serta salah satu guru Bahasa Inggris di MAN, meminta kepada siswanya untuk menuliskan resume mengenai paparan yang disampaikan Ana. Serta pentingnya Penyu terhadap keberlangsungan Berau. Tidak lupa, sebelum meninggalkan kelas, para siswa berfoto bersama dengan Ana dan Bayu serta gurunya. Sebagai kenangan, untuk tetap menjaga dan memiliki semangat terhadap keberlangsungan maskot Berau yang tercinta itu. (*/udi)

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.