Dibantai Pemburu, Kepala dan Tangan Lutung Jawa Digantung di Pohon

Seekor lutung jawa ditemukan mati di tepi jalur pendakian menuju Cemorokandang, wilayah Dusun Princi, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Satwa yang bernama latin Trachypithecus auratus diduga dibantai oleh pemburu pada Senin (10/8). Saat ditemukan, hanya tersisa kepala yang ditancapkan di sebatang pohon dan kedua pergelangan tangannya digantung.

"Tadi malam (Senin, 10/8) kami mendapat laporan dari warga dengan memberikan bukti foto," terang Ketua PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid saat presscon di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), Selasa (11/8).

Namun, saat Tim PROFAUNA Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur dan Perhutani KPH Malang menuju lokasi, hanya ditemukan potongan tangan saja, sedangkan kepalanya sudah hilang.

Dilihat dari kondisi potongan tangannya yang masih relatif baru, lutung jawa yang diperkirakan berusia dewasa ini dibunuh sekitar 3 hari yang lalu. Hal ini menunjukkan masih adanya aktivitas perburuan di area tersebut.

Kepala Resort Pemangkuan Hutan Oro-Oro Ombo Kota Batu Hadi Mustofa mengatakan, titik lokasi kasus ini ada di petak 212 dengan luas baku 1.116,6 meter persegi dan hutan ini termasuk hutan lindung.

"Kami sangat prihatin atas perburuan ini dan sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh PROFAUNA," kata Hadi.

Kemungkinan lutung tersebut diburu dengan cara ditembak menggunakan senapan. "Karena lutung dikenal adalah satwa arboreal, yakni hewan yang aktivitasnya sebagian besar di atas pohon," imbuh Hadi.

Kembali Rosek Nursahid menegaskan bahwa perburuan ini dinilai PROFAUNA Indonesia telah menodai Hari Konservasi Alam Nasional yang baru saja dirayakan Senin lalu (10/8).

Pihak PROFAUNA menduga perburuan hewan endemik Pulau Jawa, Bali, dan sebagian wilayah Lombok ini kemungkinan untuk dimanfaatkan dagingnya.

Menurut mitos yang beredar, disinyalir dengan mengonsumsi daging lutung bisa meningkatkan vitalitas dan memberikan efek luar biasa bagi penyuka minuman keras.

PROFAUNA Indonesia bertekad untuk membawa kasus ini sampai tuntas ke jalur hukum melalui penyelidikan pihak yang berwajib.

Di samping itu, untuk mencegah hal ini terulang, dalam seminggu terakhir tim Ranger PROFAUNA Indonesia rutin monitoring hutan untuk sapu bersih jerat satwa. Hasilnya mereka menemukan jerat kawat melingkar yang terpasang di sebatang kayu yang panjang. Jerat yang dipasang di atas tanah ini bisa saja menjebak satwa liar, baik ayam hutan atau bahkan macan tutul.

Artikel ini telah tayang di: Radar Malang pada tanggal 11 Agustus 2020

© 2003 - 2020 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.